Etika Bunga yang Terhempas

Revolusi Mental Jokowi dan Antiklimaks KPK
April 24, 2017
Urgensi Etika Pemerintahan dalam Implementasi Good Governance
May 14, 2017

Ilustrasi: poskotanews.com

Katakan dengan bunga demikian kata william shakespeare, Bunga ungkapan rasa cinta yang sangat romantis. Dalam syair syair sastra, bunga seringkali dikonotasikan sebagai perempuan tempat berlabuhnya kasih sayang.

Biasanya sang kekasih tak kuasa menolak sebuah persembahan berupa bunga, jika hatinya berkenan dia akan terima bunga itu dan langsung menciumnya sepenuh hati bahkan disertai ekspresi pelukan hangat. Jika hatinya tak berkenan diapun akan menerima meski akhirnya dibuang ke tempat sampah dan jika hatinya ragu ragu, dia akan letakan bunga di meja kamarnya untuk diperhatikan setiap saat untuk memperteguh hatinya menerima atau menolak.

Paling tidak bunga itu akan memperindah kamar dan mungkin juga hatinya. Diatas semua itu mengungkapkan rasa dengan bunga adalah sebuah keindahan tiada cela. Tak dinyana kekalahan Ahok Djarot melahirkan etika baru yakni etika bunga. Rasa cinta yang tulus memang akan melahirkan etika terpuji, indah dan tanpa pamrih. Yang ingin diungkapkan oleh pendukung adalah rasa cinta mereka terhadap Ahok Djarot yang dianggap mampu meminimalisir Polusi KKN dan mampu memberikan udara segar kepada masyarakat DKI Jakarta.

Etika tidak berbicara menang atau kalah, Etika dalam bahasa Arab berarti akhlak, membahas kebaikan dan keburukan. Ekpresi rasa cinta dengan memberikan karangan bunga adalah perilaku baik, terpuji dan indah. Etika bunga pendukung Ahok Djarot tidak berbicara kekalahan pada Pilkada DKI baru lalu. Ini soal hati, memang sulit diungkapkan dengan kata kata atau perbuatan lainnya maka bunga menjadi simbol ungkapan pendukung Ahok Jarot.

Etika bunga adalah Ungkapan rasa cinta, tidak bisa dihitung hitung secara materi seperti yang diungkapkan oleh wakil Presiden Jusuf kalla. Cinta tidak berbicara matematika apalagi hitung hitungan ekonomis. Mungkin Wakil Presiden Jusuf Kalla perlu mengenang kembali saat saat dilanda cinta?

Bukankah Romeo dan Juliet rela mati bersama karena cinta, Shinta rela membakar dirinya untuk menunjukan cinta sucinya kepada Rama dan ternyata cinta tak kenal logika demikian kata Agnes Monica. Anies Baswedan pemenang Pilkada DKI 19 April 2017, perlu berguru kepada Ahok Djarot bagaimana cara meraih simpati dan cinta dari masyarakat Jakarta. Anies tidak perlu “sidak” kepada penjual karangan bunga untuk memastikan siapa pemesan sebenarnya. Anies mencoba berlogika dengan cinta namun Love is blind.

Soekarno meringkuk dipenjara dan dibuang bertahun tahun karena cintanya kepada bangsa dan negara ini. Nelson Mandela memaafkan sipir yang pernah menyiksa dirinya ketika dipenjara dan memaafkan lawan lawan politiknya karena cintanya kepada kemanusiaan. Etika bunga adalah etika cinta, dia indah, penuh empati dan secara alamiah membentuk koridor nilai nilai universal kebaikan dan keikhlasan.

Balai kota yang dipenuhi karangan bunga adalah balai kota yang penuh rasa cinta. Cinta antara atasan dan jajaranya, cinta sesama abdi bangsa dan abdi masyarakat serta cinta kepada pekerjaan dan tanggungjawab. Nilai nilai kebaikan dan keikhlasan yang tumbuh pada diri setiap aparatur negara akan berdampak langsung terhadap kinerja dan performance Pemerintah.

Pembakaran dan pengrusakan karangan bunga di balai kota oleh demonstran buruh pada 1 Mei lalu tidak akan menyurutkan rasa cinta kepada Ahok Djarot justru akan semakin menambah tebal rasa cinta para pendukung. Rasa cinta yang dilukai akan menambah energi cinta, karena cinta akan semakin terasa bila diuji tidak ada cinta tanpa ujian. Cinta perlu pengorbanan dan bukti. I sail over seven seas, To find to your heart demikian ungkap Gina T.

Ramalan penulis, karangan bunga para pecinta Ahok Djarot akan kembali memenuhi balai kota dan mungkin akan semakin fenomenal. Sebaliknya karangan anti bunga atau anti cinta akan menyesakkan dada Anies – Sandi. Mengapa Anies – Sandi tidak mendapat sambutan banjir karangan bunga? Apakah pilkada DKI hanya soal menang dan kalah dalam merebut kekuasaan? Jika politik hanya memperebutkan kekuasaan maka wajar krisis politik, kesejahteraan dan keadilan sosial akan terus berlanjut.

Meminjam pendapat Yudi Latif, Krisis politik kita bersumber dari kemarau etika politik. Padahal, etika politik inilah yang menghubungkan hukum dengan ideal kehidupan sosial-politik, kesejahteraan bersama, dan keadilan sosial. Alangkah indahnya etika bunga, etika universal dalam mengungkapan rasa cinta. Dalam politik etika bunga bisa dikonotasikan sebagai cinta kepada proses demokrasi, kebenaran, keadilan dan ikhlas berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara. Sayangnya etika bunga kini terhempas oleh etika Machiavelian dan atau etika Ken Arok.

Sources: kompasiana.com

Komentar

Sri Mulyono
Sri Mulyono
Penulis | Blogger | Pengelola Beberapa Media Online | Twitter: @Anyarbro. Email: [email protected]